Sabtu, 17 Oktober 2009

Bule Island Resort Lampung


pintu masuk bule island resort , di lampung , cukup menyejukkan untuk menghilangkan penat dikala penuh kerjaan .
photo mahmud Sumatera Ekspres palembang

Pulau Bule - Bule Island Resort

Menuju Pulau Bule, Lampung Selatan , Provinsi Lampung. di Bule Island Resort ini cukup
mengasyikkan. Udaranya segar, hamparan alamnya indah, dan fasilitas yang diberikan oleh pemiliknya, Tommy Winata, juga memadai. Photo Mahmud - Sumatera Ekspres Palembang.

persiba v sfc

Bukan karena Veteran

KURANG gregetnya Sriwijaya FC, kerap dinilai akibat coach Rahmad Darmawan masih percaya pemain-pemain tua. Buktinya, 5 dari 6 pemain tua Laskar Wong Kito tidak mampu meredam agresivitas pemain Persiba yang lebih muda dan fresh. Dampaknya, Sriwijaya kalah 0-4. Catatan ini, memperjanjang rekor buruk yang sudah 9 kali dikemas Sriwijaya.
Saat ini, ada 6 pemain Sriwijaya yang berstatus veteran. Dikatakan veteran karena usia mereka di atas 30 tahun. Mereka adalah Keith Kayamba (37 tahun), Hendro Kartiko (36 tahun), Rahmat Rivai (32 tahun), Charis Yulianto (31 tahun), Ponaryo Astaman (30 tahun), dan Isnan Ali (30 tahun).
Pasca bergabungnya Aleksandar Duric, sempurna sudah julukan Sriwijaya sebagai pelopor pemain veteran. Sebab, usia Duric justru 39 tahun. Pria yang masih memperkuat Singapore Armed Force (SAF) hingga Jumat, 6 November mendatang, adalah kelahiran Bosnia, 12 Agustus 1970.
Namun, keoknya Sriwijaya karena pemain tua dibantah Hendri Zainuddin, manajer tim. Menurutnya, Rahmat Rivai dkk hanya kelelahan saja. “Mereka bermain normal-normal saja. Hanya terlihat lelah sejak melawan PSM, Rabu (11/11) lalu,” bantah Hendri.
Kondisi tim yang tidak komplet (ada 7 pemain inti yang absen), juga menjadi penyebab drop-nya performa Sriwijaya. Mereka adalah Obiora Richard (masih di Nigeria), Precious Emuejeraye (masih di Woodland Wellington), Aleksandar Duric (masih di SAF), Charis Yulianto (cedera), Ambrizal (pemulihan DBD), Toni Sucipto (TC timnas U-23) dan Ferry Rotinsulu (cuti nikah).
“Kami akan buktikan, Sriwijaya bisa lebih baik jika kondisi tim komplet. Saat lawan Persitara, 21 Nopember nanti, tim 100 persen siap. Charis dan Ambrizal hampir pasti sembuh. Obiora, Precious, dan Duric juga bisa dimainkan,” pungkas anggota DPRD Banyuasin.(mg2)

Daftar pemain Sriwijaya diatas 30 tahun

Nama Kelahiran Usia
Alexandar Duric 12 Agustus 1970 39
Keith Kayamba 11 September 1972 37
Hendro Kartiko 24 April 1973 36
Rahmat Rivai 11 Desember 1977 32
Charis Yulianto 11 Juli 1978 31
Ponaryo Astaman 25 September 1979 30
Isnan Ali 15 September 1979 30

SFC Mengapa Kalah?


Diiming-imingi Bonus,

Tetap Kalah

PALEMBANG - Kekalahan Sriwijaya 0-4 atas Persiba Balikpapan, (14/10) lalu menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat Sumsel. Berbagai kritikan datang dari beberapa kalangan. Termasuk menyoroti tidak sanggupnya manajemen mengurus Sriwijaya FC. Tapi, pihak manajemen Sriwijaya FC membantah, kekalahan 0-4 atas Persiba ini disebabkan kesalahan nonteknis.

“Ini murni kelelahan fisik dari pemain yang sebelumnya melakukan 2 pertandingan berat. Sebelumnya, kami dan pelatih sudah memberikan support kepada pemain untuk tetap optimistis. Karena hanya modal Optimis itu yang bisa kami andalkan,” kata Manajer Sriwijaya FC, Hendri Zainuddin.

Hendri menambahkan, selain support, pihak manajemen juga memberikan bonus agar pemain bisa bertambah semangat dalam bertanding. Yakni, bila pada laga away dan menang, akan diguyur bonus Rp4 juta per pemain. Dan apabila seri akan di beri bonus Rp2 juta.

“Bonus ini hanya semata-mata untuk meningkatkan semangat bertanding para pemain. Sehingga di harapkan pada pertandingan terutama pada laga away pemain bisa bermain lebih optimal. Dan bisa memberikan yang terbaik,” lanjut pria berkacamata ini.

Sementara itu, pelatih Sriwijaya FC, Rahmad Darmawan mengakui kekalahan 0-4 atas Persiba murni kesalahan tim. Sehingga tidak ada istilah saling menyalahkan. “Kekalahan ini adalah kesalahan tim. Dan saya selaku pelatih akan bertanggung jawab atas kekalahan ini. Sebab, setiap pertandingan pelatihlah yang bertanggung jawab,” timpal pelatih Sriwijaya FC, Rahmad Darmawan.

Rahmad tidak menampik bila kekalahan ini juga disebabkan karena kelelahan fisik pemain. Maklum, sejak 5-15 Oktober, tim berjuluk Laskar Wong Kito ini melakukan 3 pertandingan beruntun. Yakni, melawan Persipura, (7/10), pada laga community shield, dengan skor 1-3, melawan PSM (11/10) pada laga perdana ISL dengan skor 1-1, dan Persiba Balikpapan (14/10), dengan skor 0-4.

“Kami masih mempunyai waktu sekitar satu bulan untuk melakukan pertandinagn melawan Persitara (21/11) nanti. Sehingga kami bertekad untuk mengembalikan peforma kami. Dan kami tidak ingin kekalahan seperti ini terulang lagi,” pungkas mantan pelatih Persija ini. (mg43/sumatera Ekspres palembang)

Senin, 09 Februari 2009

INI BARU sfc


Ngon Cetak Hattrick
(4) Sriwijaya v Arema (0)

PALEMBANG - Perasaan lega mulai dirasakan para pemain, pelatih, dan suporter Sriwijaya FC (SFC). Setelah beberapa pekan hanya menghuni posisi ke-4 klasemen sementara, kini tim berjuluk Laskar Wong Kito memuncaki capolista. Mereka menggeser Persipura Jayapura, usai mengganyang Arema Malang 4-0 (2-0) pada pekan ke-20 Indonesia Super League (ISL) di Gelora Sriwijaya Jakabaring, tadi malam.
Ngon a Djam menjadi pahlawan kemenangan tim double winners. Striker asal Kamerun, mencetak tiga gol alias hattrick. Masing-masing menit ke-21 via penalti, 32”, dan 48”. Satu lagi ditorehkan pemain pengganti Alamsyah Nasution menit ke-82.
“Dua laga terakhir, jujur saya sangat tidak puas dengan anak-anak. Tapi, di laga ketiga lawan Arema, mereka bermain sebagai ’laki-laki’,” ungkap Coach SFC Rahmad Darmawan.
Tak pelak, sinyal bakal juara lagi makin menerpa Laskar Wong Kito--julukan SFC. Namun, belum sepenuhnya aman. Sebab, Persipura bisa menyalip kembali jika menang lawan Persib Bandung, hari ini (Senin, 9/2).
Hingga kini, Isnan Ali dkk mengemas 40 poin dari 20 caps (laga). Sedangkan Mutiara Hitam--julukan Persipura--mengemas 39 poin dari 18 caps. Hanya saja, Persipura bakal melakoni laga berat. Status mereka adalah tamu bagi Maung Bandung--julukan Persib.
“Sekarang kami banyak memainkan variasi serangan. Pola pun selalu diubah-ubah. Selama ini, lawan selalu tahu bahwa kami pakai 4-4-2. Tapi, kali ini tidak lagi,” sambung pelatih asal Metro, Lampung.
Pada laga tadi malam, Ngon a Djam memang tampil perfect. Gol pertamanya tercipta via penalti. Itu setelah Keith Kayamba Gumbs dilanggar defender Arema, Ahmad Jufrianto, tepat di kotak terlarang.
Ngon yang menjadi eksekutor, sukses menjalankan tugasnya mengoyak jala gawang M Yasir. Gol kedua Ngon, justru terjadi karena blunder M Yasir sendiri. Kiper plontos ini, tak sempurna menangkap crossing midfielder SFC Zah Rahan Krangar dari sektor kiri. Bola tangkapannya lepas, langsung disambar Ngon a Djam, Kedudukan 2-0 untuk SFC.
Gol ketiga Ngon, justru lebih cantik. Dengan cepat, mantan pemain AC Horsen (Liga Denmark), menyambar crossing lambung Benben Berlian dari sektor kanan. Jala M Yasir pun kembali koyak. Ini berarti Ngon telah mengoleksi 14 gol menyamai Cristian Gonzales.
Tak tahan banyak kebobolan, pelatih Arema Gusnul Yakin mengganti M Yasir dengan Kurnia Meiga menit ke-64. Namun, tak banyak membantu. Alamsyah Nasution yang menggantikan Ambrizal menit ke-70, ikut-ikutan mencetak gol hanya berselang kurang dari satu menit sejak dirinya masuk. Kedudukan 4-0 untuk SFC, hingga peluit terakhir ditiup wasit Aeng Suharlan (Bandung).
“Kami banyak menekan Arema. Akibatnya, mereka terpancing untuk bermain terbuka. Itu yang jeli kami manfaatkan,” tandas Rahmad.
Arema sebenarnya tampil edan. Serangan lini tengah mereka, sempat mengobrak-abrik pertahanan SFC. Beruntung, kiper Ferry Rotinsulu tampil gila-gilaan, Tercatat, 8 kali pria asal Palu menyelamatkan gawangnya.
Paling serius, tendangan keras Arif Suyono menit ke-37 tepat ke gawang. Tapi, sukses ditangkapnya, Kemudian, tendangan first time Patricio Morales menit ke-48, juga digagalkan. Terakhir tendangan Solaymane Traore menit ke-68, hanya mengena tiang kiri gawang Ferry Rotinsulu.
“Kami tidak punya goal getter. Padahal, serangan kami sangat banyak. Tak hanya dari tengah, tapi dari kedua sayap juga. Itulah kekuarangan kami,” sesal Coach Arema, Gusnul Yakin. (mg2)

Catatan: Dahlan Iskan


Tionghoa: Dewasa
dalam 10 Tahun

Catatan Cap Go Meh: Dahlan Iskan

Ada perkembangan yang sangat menarik dari banyaknya rombongan kesenian yang banyak datang ke Indonesia setiap tahun (termasuk di sekitar Hari Raya Imlek sampai Cap Go Meh tahun ini). Ada perubahan pandangan yang sangat besar dari kalangan Tionghoa sendiri atas kedatangan mereka itu.
Pandangan apa yang berubah antara kedatangan mereka 10 tahun yang lalu dan sekarang ini?
Saya mencatat dengan teliti sudah terjadi perubahan persepsi yang luar biasa. Termasuk di kalangan masyarakat Tionghoa sendiri. Juga di mata yin ni pen di ren. Sampai 9-8-7 tahun yang lalu, kedatangan rombongan kesenian dari Tiongkok itu masih selalu dianggap hebat, bahkan setengah ajaib. Tariannya selalu dipuja sebagai liao bu qi. Kostum dan penarinya selalu dinilai hen piao liang! Dan akrobatnya hen lihai! Pujian di tahun-tahun pertama reformasi itu tidak salah, terutama barangkali karena sudah puluhan tahun tidak melihat kesenian yang demikian –lantaran dilarang selama lebih 30 tahun.
Begitu seringnya kedatangan rombongan kesenian itu dan begitu dipujanya di sini, sampai-sampai ada sebagian golongan Tionghoa sendiri mengkhawatirkan: Apakah ini baik? Terutama untuk pengembangan jatidiri Tionghoa Indonesia?
Untunglah ada demokrasi. Pertanyaan seperti itu hanya berkembang sebatas sebagai renungan yang ternyata kelak membuahkan hasil yang lebih fundamental. Di zaman demokrasi ini tidak ada lagi orang yang bisa memaksakan kehendak. Kalau saja kekhawatiran seperti itu muncul di zaman pra-demokrasi, buntutnya pasti represif: Larang! Jangan diberi izin! Kecam! Dampak dari represi itu bisa panjang, terutama secara psikologis. Termasuk dalam upaya membangun rasa kebangsaan Indonesia.
Ternyata tanpa dilarang, tanpa dihambat, tanpa dikecam, terjadi proses pendewasaan yang luar biasa cepatnya di kalangan masyarakat Tionghoa sendiri. Kini, sepuluh tahun kemudian, setiap ada rombongan kesenian dari Tiongkok, masyarakat Tionghoa sendiri sudah amat kritis: penampilan mereka bukan lagi dipandang dari segi emosional, tapi sudah dinilai dengan penilaian sangat rasional. Bahkan kian lama kian banyak yang menilai “grup tari kita sendiri sebenarnya lebih baik dari yang datang itu". Komentar kritis seperti ini tidak pernah saya dengar 10 tahun yang lalu, atau bahkan lima tahun yang lalu. Semuanya, ketika itu, serba memuji: jelek dipuji, baik dikagumi.
Memang di kalangan masyarakat Tionghoa Indonesia juga banyak muncul grup tari yang hebat-hebat. Kursus-kursus tari, mulai balet sampai tradisional, mulai tari barat sampai tari timur, bermunculan. Memang motifnya banyak yang komersial, tapi pengaruh kebudayaannya tetap besar. Lama-lama kelompok tari dari Indonesia itu (dari Jakarta, Surabaya, Bandung dan seterusnya) juga mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dorongan orang tua di keluarga Tionghoa agar anak-anaknya les tari sama besarnya dengan dorongan orang tua agar anak mereka les piano atau matematika. Grup tari seperti Marlupi Dance Group, Senapati, Wijayakusuma yang semuanya dimiliki oleh tokoh Tionghoa, benar-benar liao bu qi. Bahkan prestasinya sampai ke tingkat internasional. Demikian juga kelompok tari di Jakarta seperti Marlupi Dance Academy, Na Marina, Pelangi, Luzy semua hebat-hebat. Marlupi yang di Surabaya memiliki 14 cabang, lima tahun lalu ekspansi ke Jakarta dan selama lima tahun ini saja sudah membuka 15 cabang di Jakarta. Wanita yang kini berumur 70 tahun dan selalu mengajak saya bicara dalam bahasa mandarin ini, melahirkan anak-anak yang juga sangat hebat di bidang tari sehingga regenerasi di kelompok Marlupi kelihatannya tidak akan ada masalah –bahkan lebih seru lagi.
Kini persaingan mutu tari antara delegasi dari Tiongkok yang sering datang ke Indonesia dengan mutu tari yang dari Indonesia sendiri sudah tidak bisa dibedakan. Penari Indonesia bisa tampil sebaik atau lebih baik dari penari dari Tiongkok –termasuk dalam tari tradisional Tiongkok sekali pun. Dulu, ada kesan bahwa kostum penari dari Tiongkok masih lebih wah: lebih gemerlap, lebih mahal, lebih variasi dan lebih jreng. Tapi, kini grup-grup tari dari Indonesia juga sudah berani “belanja" kostum. Benar-benar tidak ada bedanya lagi.
Dari kenyataan itu saya menyimpulkan telah terjadi pendewasaan yang luar biasa dalam dua hal: rasionalitas dan kualitas. Kini yang rasional sudah mulai mengalahkan yang emosional. Belum sepenuhnya tapi sudah besar perubahannya itu. Kini kualitas sudah mulai mengalahkan rasa rendah diri. Perkembangan ini mungkin jarang yang mencatatnya, tapi saya memperhatikannya sungguh-sungguh bahkan dari amat dekat.
Kalau saja, 10 tahun lalu yang dilakukan adalah main larang, main kecam dan main represif, barangkali sampai sekarang pun tingkat kedewasaan setinggi itu belum akan tumbuh. Bahkan, mungkin, malah jadi api di dalam sekam. Kini setiap ada rombongan kesenian yang datang dari Tiongkok, kita menyambutnya dengan lebih wajar sebagai kunjungan persahabatan dan pertukaran kebudayaan dari dua bangsa yang punya hubungan kebudayaan dan hubungan emosional yang sangat erat. Tidak ada lagi kesan yang tidak sejajar.
Saya pribadi punya pengalaman traumatis. Ketika secara resmi pertunjukan kesenian yang berbau Tiongkok masih dilarang di tahun 1980-an, saya sudah berani menyelenggarakan pertunjukan akrobat dari Wuhan. Lengkap dengan grup musik tradisionalnya yang amat besar. Banyak yang meragukan apakah pentas itu bisa terlaksana. Nyatanya bisa meski harus berurusan dengan amat panjangnya.
Yang juga belum banyak diketahui adalah di bidang pertunjukan Barongsai. Kini Indonesia sudah memiliki 18 orang juri tingkat internasional. Ketika saya menjadi ketua umum barongsai Indonesia pertama kalinya 8 tahun lalu, tidak satu pun kita memiliki juri. Akibatnya setiap pertandingan selalu ricuh. Hubungan antar-klub tegang. Akhirnya kita harus selalu mendatangkan juri dari luar negeri. Kini, kita sudah bisa “ekspor" juri barongsai. Setiap pertandingan besar di luar negeri, juri kita diminta ke sana.
Demikian juga kini kita sudah bisa membuat barongsasi sendiri. Padahal dulu kita selalu impor. Kalau tidak dari Tiongkok juga dari Malaysia. Kini, di Jawa Tengah sudah ada dua orang yang mengkhususkan diri membuat barongsasi. Sebulan rata-rata bisa membuat 25 set: mulai dari kepala sampai sepatunya. Bahkan pengrajin barongsai kita, sudah mampu membuat kepala barongsasi yang beratnya hanya 1,2 Kg!
Saya masih ingat, delapan tahun lalu, kepala barongsai di Pontianak masih sangat berat: 6 kg. Lama-lama turun menjadi 5 kg, 4 Kg dan kini sudah seringan 1,2 Kg. Ini karena pengrajin sudah bisa menggunakan kulit bambu khusus yang ada di Jawa yang meski disayat amat tipis tapi amat kuat. Tidak lama lagi, pastilah kita bisa ekspor barongsai.
Dalam jangka panjang sebaiknya Indonesia juga menciptakan sistem pertandingan internasional yang lebih menarik. Saya sudah lontarkan ini di kalangan intern masyarakat barongsai Indonesia. Terutama setelah saya tahu bahwa sistem pertandingan yang sekarang ini ternyata ciptaan Malaysia, salah satu guru barongsai kita.
Menurut penilaian kita, sistem yang sekarang sudah sangat atraktif tapi jalannya pertandingan sangat lambat. Penggunaan tonggak yang tinggi-tinggi dan berat itu (berat tonggak tersebut sampai 2 ton), menyulitkan praktik pengaturannya. Memang menegangkan, tapi setiap peserta memerlukan waktu persiapan yang lama. Setiap grup harus membawa sendiri tonggak mereka. Juga harus menggunakan tonggak sendiri (karena tonggak itulah yang biasa digunakan saat berlatih sehingga bisa mengurangi tingkat bahayanya). Akibatnya, jarak penampilan satu peserta dengan peserta pertandingan berikutnya perlu waktu sampai hampir 20 menit. Penonton pun bosan menunggu persiapan yang begitu lama. Saya sendiri belum punya ide harusnya yang bagaimana, tapi saya sudah bisa menyimpulkan bahwa sistem ini tidak bisa membuat pertandingan barongsai banyak ditonton orang.
Sungguh tidak terkirakan bahwa masyarakat Tionghoa Indonesia bisa mencapai tahap kedewasaan sehebat ini hanya dalam waktu 10 tahun! (*)

Minggu, 18 Januari 2009

opium2


* Catatan Dahlan Iskan tentang Strategi Merebut Hati dan Mengisi Perut di Golden Triangle (2)
---------
Membangun Swiss Minus Gunung Es untuk Ibu Suri
-------------
Sukses proyek rehabilitasi pusat opium dunia di Golden Triangle tak bisa dilepaskan dari pengaruh dua figur kerajaan yang dihormati di Thailand: Ibu Suri dan Khun Chai. Lewat yayasannya, keduanya berhasil mengerahkan partisipasi warga sehingga bisa mengalahkan pengaruh buruk sindikat opium dan perdagangan senjata ilegal.
----------------------------
SALAH satu cita-cita kecil Khun Chai adalah menjadi pengusaha. Karena itu, dia masuk sekolah bisnis di Indiana, USA. Tapi, sebagai keluarga kerajaan, Khun Chai tidak bisa memilih kehidupan semaunya sendiri. Setiap keluarga kerajaan harus memegang prinsip ini: Salah satu anak lelaki di keluarga itu harus mengabdikan hidupnya untuk negara. ”Padahal, di keluarga saya, sayalah anak laki-laki satu-satunya,” ujarnya.
Karena itu, dia harus mengabdi ke negara. Yakni, jadi sekretaris Ibu Suri. Bagaimana dengan anak-anaknya? ”Saya punya dua anak laki-laki. Saya serahkan sepenuhnya kepada mereka. Mereka akan berunding siapa di antara keduanya yang harus mengabdi kepada negara,” ujar Khun Chai.
Khun Chai adalah contoh terbaik bagaimana menggunakan sisa umur yang panjang. Kini umurnya sudah 70 tahun, tapi pengabdian yang dia tangani seperti masih memerlukan jasanya 70 tahun lagi. Sikap ini dia teladani langsung dari Ibu Suri Kerajaan Muangthai. Justru di usia Ibu Suri yang ke-90 proyek rehabilitasi pusat opium dunia ini dimulai.
Memang, Ibu Surilah yang menjadi inspirator sekaligus promotor perubahan kawasan Golden Triangle ini. Hanya, Ibu Suri memang amat beruntung punya sekretaris yang bernama Khun Chai yang bisa melaksanakan semua keinginannya dengan sepenuh hati.
”Khun Chai” sebenarnya bukan nama, melainkan semacam gelar kerajaan. Mirip Gusti Raden atau sebangsanya itu. Nama sebenarnya adalah Mom Rajawongse Disnadda Diskul. Hanya, semua orang memanggilnya dengan panggilan gelar kerajaan itu.
Setiap tahun, kisah Khun Chai, Ibu Suri memang tetirah ke Swiss untuk beristirahat beberapa bulan di istananya di sana. Ibu Suri sangat menyukai alam Swiss yang indah, damai, dan bergunung-gunung itu. Apalagi di Swiss terdapat gunung es abadi yang bisa untuk bermain ski yang menjadi salah satu kesukaannya.
Tapi, Ibu Suri menyadari begitu usia mencapai 90 tahun tidak mungkin lagi mondar-mandir ke Swiss. Begitu berusia 90 tahun Ibu Suri ingin menetap di Thailand. Persoalannya: Di mana alam yang seperti Swiss di Thailand ini? Ibu Suri tidak mau tinggal di Bangkok yang begitu sibuk dan bising.
Khun Chailah yang menemukan jalan keluarnya. Yakni, di satu pegunungan, yang kalau Ibu Suri mau tinggal di situ bisa melihat lembah yang menghampar hijau di bawah sana, dan memandang bukit-bukit yang berpunuk-punuk di sekitarnya. Itulah pegunungan Doi Tung. Di atas bukit Doi Tung inilah Khun Chai berencana membangun vila kerajaan untuk hari tua Ibu Suri. Apalagi, setelah meninjau Doi Tung, Ibu Suri langsung menyenanginya. Memang tidak ada gunung es di sekitarnya. Tapi, dalam usia 90 tahun, toh gunung es sudah kurang ada gunanya.
Tapi, masih ada persoalan besar: wilayah ini tidak aman. Citra wilayah ini juga sangat buruk di seluruh jagat raya: pusat opium dunia. Bahkan, masih berada dalam kekuasaan tentara Khun Sha, raja opium yang ditakuti di mana-mana. Kekuasaan Khun Sha atas wilayah itu (termasuk sebagian wilayah Burma dan Laos) sudah seperti seorang diktator di suatu negara tersendiri. Sialnya lagi, lokasi pusat perdagangan senjata yang di bawah pohon besar itu, hanya kurang dari satu kilometer dari calon lokasi vila Ibu Suri ini.
Kecintaan Khun Chai kepada Ibu Suri membuatnya berpikir keras untuk mengatasi persoalan itu. Khun Chai berpikir untuk memberantas opium, perdagangan senjata, dan kejahatan-kejahatan yang menyertainya di situ, tidak bisa lagi berharap pada kekuatan formal pemerintah. Apalagi, kekuatan bersenjata. Cara itu sudah terbukti gagal di masa lalu. Tapi, Khun Chai tahu betapa rakyat sangat mencintai Ibu Suri. Senjata inilah yang akan dipergunakan Khun Chai. Apalagi, kewibawaan Ibu Suri pasti di atas kewibawaan raja Thailand yang lagi berkuasa sekali pun –yang tak lain anaknya sendiri.
Maka Khun Chai mengemukakan idenya untuk mengubah Golden Triangle dengan menggunakan pendekatan baru: merebut hati rakyat yang selama ini dikuasai tentara sindikat Khun Sha dan memenuhi perut mereka yang selama ini hanya bisa diisi oleh hasil penjualan opium. Biaya memang akan besar. Tapi, modal yang lebih penting adalah keseriusan dan kesungguhan melaksanakannya.
Termasuk keseriuan dalam mencari cara-cara yang bisa membuat proyek ini berjalan lancar. Yang dipilih adalah memanfaatkan budaya masyarakat. Yakni, budaya menghormati Ibu Suri, menghormati keluarga kerajaan, mengagungkan angka 9, dan kepercayaan Buddhanya. Kalau mau, sebenarnya bisa saja proyek ini dimulai dengan jalan pintas: titah raja. Yang menentang: sikat!
Tapi Khun Chai tidak mau itu.
Di masa lalu sudah terbukti kekerasan dan pemaksaan untuk menghancurkan ladang opium dan menumpas sindikat Khun Sha tidak membawa hasil. Senjata yang akan dipakai Khun Chai cukup satu: Ibu Suri. Yakni, momentum bahwa tiga tahun lagi Ibu Suri akan genap berusia 90 tahun dan sejak saat itu bertekad menetap di Doi Tung.
Dengan memproklamasikan bahwa proyek ini akan dipersembahkan untuk ulang tahun ke-90 Ibu Suri, ide besar ini mendapat tanggapan baik. Berarti tiga tahun kemudian, 1990, sudah harus jadi. (Ibu Suri lahir pada 1900).
Segeralah dibentuk yayasan yang sepenuhnya menggunakan nama Ibu Suri. Bukan nama sebenarnya, melainkan nama yang pernah diberikan masyarakat kepada Ibu Suri: Mae Fah Luang. Mae berarti ibu. Fah berarti langit. Luang berarti kerajaan. Jadilah, Yayasan Mae Fah Luang: Ibu Kerajaan Langit.
Rakyat kecil memberi gelar itu kepada Ibu Suri sejak 30 tahun sebelumnya. Yakni, sejak Ibu Suri berusia 40 tahun. Waktu itu Ibu Suri sedang tetirah di Istana Chiang Mai, dekat perbatasan dengan Provinsi Yunnan, Tiongkok. Tiap hari dia menghabiskan waktu mengunjungi desa-desa dekat perbatasan. Lalu bertemu sekelompok orang berpakaian tentara yang dengan disiplin menjaga perbatasan. Itulah tentara perbatasan. Dari pembicaraan dengan mereka, diketahuilah persoalan-persoalan perbatasan yang khas: termasuk kemiskinan masyarakat pegunungan yang suatu saat bisa saja menjadi faktor kerawanan perbatasan. (Kerawanan yang dikhawatirkan seperti itu sudah terjadi di sepanjang perbatasan Kalimantan-Malaysia, sehingga akhirnya batas bergeser 20 kilometer. Akibat pergeseran di daratan itu, Pulau Sipadan dan Ligitan menjadi masuk wilayah Malaysia).
Sejak sering ke perbatasan itu Ibu Suri memutuskan harus mengunjungi semua desa di gunung-gunung terpencil di semua wilayah perbatasan. Kendaraan yang digunakan adalah helikopter. Setiap hari Ibu Suri berada di langit terbang ke sana kemari. Popularitas Ibu Suri kian melambung saja. Rakyat kian tergila-gila padanya. Termasuk kemudian memberi gelar Mae Fah Luang itu.
Dengan nama Yayasan Mae Fah Luang, upaya merebut hati rakyat lebih mudah. Apalagi, ini untuk dipersembahkan pada ulang tahun sang Ibu Langit di angka yang amat keramat: 90. Wujud proyek ini barangkali akan berbeda kalau, misalnya, mengusung nama pemerinah atau swasta.
Proyek ini juga ditetapkan sebanyak 90 plot yang meliputi 19 desa miskin. Tiap plot luasnya 99 rai. Tiap rai harus ditanami 99 pohon. Dan, yang terlibat pembiayaan proyek ini harus 99 instansi. Instansi apa saja? Di Thailand ada 73 provinsi (gubernur) dan 14 kementerian. Sudah 87. Ada angkatan udara, darat, laut, polisi. Sudah 91. Ada organisasi wanita dari angkatan itu empat buah. Sudah 95. Ada lembaga tertinggi negara satu buah. Sudah 96. Kurang tiga lagi. Raja dan permaisuri diikutkan. Tinggal kurang satu. ”Saya sendiri,” ujar Ibu Suri saat itu, sebagaimana dikisahkan Khun Chai. (bersambung)